SULTRAWINN.COM, BOMBANA – Yayasan Kesejahteraan Masjid di bawah asuhan Yayasan Dharul Ashar membantah tudingan pungutan liar dalam pengelolaan dan penyaluran air bersih di Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.
Bantahan itu disampaikan Pengelola Operasional Yayasan Dharul Ashar, Kaharudin, saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Sikeli, Kecamatan Kabaena Barat, Selasa (6/5/2026).
Kaharudin menegaskan iuran yang diberlakukan kepada warga merupakan hasil kesepakatan bersama antara pengelola dan masyarakat pengguna layanan air bersih. Menurutnya, hingga saat ini tidak ada keluhan dari warga terkait program tersebut.
“Sampai hari ini tidak ada pengguna yang mengeluh. Bahkan masyarakat berlomba-lomba mau pasang,” kata Kaharudin.
Sebelumnya, Lembaga Garda Muda Anoa Sultra (GMA-Sultra) mendesak aparat penegak hukum memeriksa Yayasan Dharul Ashar. GMA-Sultra menduga yayasan tersebut mengelola dan mengomersialkan sumber mata air tanpa izin badan hukum dan izin Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), serta memungut iuran Rp45 ribu hingga Rp90 ribu per bulan dari warga.
Menanggapi hal itu, Kaharudin menyebut pengelolaan air bersih telah dikoordinasikan dengan pemerintah setempat, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Ia juga menyatakan kegiatan tersebut berada dalam pengawasan instansi terkait.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Tidak mungkin kami bergerak tanpa izin. Kegiatan ini juga diawasi oleh Dinas PU Bombana, apalagi kami menggunakan jalur jalan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, iuran baru diterapkan setelah layanan air bersih digratiskan selama 13 bulan sejak pemasangan instalasi pipa dimulai pada awal 2025. Dana yang terkumpul, kata dia, digunakan untuk kebutuhan operasional dan pemeliharaan jaringan distribusi air.
“Selama 13 bulan itu gratis,” katanya.
Menurut Kaharudin, program penyaluran air bersih tersebut berangkat dari kebutuhan masyarakat terhadap akses air bersih di Pulau Kabaena. Hingga kini, layanan telah menjangkau sekitar 430 rumah di tiga kecamatan.
Wilayah yang telah terlayani meliputi Desa Baliara Selatan, Baliara Kota, Sikeli, Lahambuu, Teomokole, dan Langkema.
“Intinya sudah tiga kecamatan yang kami layani,” jelasnya.
Program itu juga mendapat tanggapan positif dari sejumlah warga. Salah seorang warga Kelurahan Sikeli, Abdulah, mengaku keberadaan layanan air bersih sangat membantu kebutuhan sehari-hari masyarakat.
“Dari dulu kami tidak pernah merasakan air bersih. Kalau bantuan perpipaan dari pemerintah, biasanya hanya bertahan satu dua hari saja,” katanya.
Ia menilai iuran yang diberlakukan tidak memberatkan karena pemasangan instalasi pipa dilakukan tanpa biaya kepada warga.
“Bukan memberatkan. Kalau tidak ada iuran, siapa yang akan mengurus? Apalagi pemasangan pipanya gratis,” ujarnya.
Warga juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Dharul Ashar atas upaya menghadirkan akses air bersih bagi masyarakat di wilayah pesisir Pulau Kabaena hingga Pulau Sogori.












