SULTRAWINN.COM, KENDARI – Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Halu Oleo (MAHACALA UHO) mematangkan persiapan pelaksanaan Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) XXXV yang akan diikuti sekitar 350 mahasiswa pencinta alam dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan nasional tersebut dijadwalkan berlangsung pada 22–28 Oktober 2026 di sejumlah lokasi di Sulawesi Tenggara (Sultra).
TWKM XXXV mengangkat tema “Hilirisasi Hijau: Kolaborasi Pemuda dan Industri untuk Indonesia Emas 2045”. Tema ini menjadi dasar pembahasan mengenai hubungan antara pembangunan industri, pemanfaatan sumber daya alam, dan keberlanjutan lingkungan.
Ketua Umum MAHACALA UHO, Ika Amalia, mengatakan TWKM XXXV memiliki dua agenda utama, yakni Temu Wicara dan Kenal Medan.
Temu Wicara menjadi forum bagi mahasiswa pencinta alam dari berbagai daerah untuk membahas persoalan organisasi dan isu lingkungan. Agenda tersebut meliputi Seminar Nasional Green Industrial Dialogue, sidang pleno, hingga sidang komisi.
Dari total peserta, sekitar 200 mahasiswa akan mengikuti Temu Wicara. Sementara 150 peserta lainnya mengikuti rangkaian Kenal Medan yang terbagi dalam tiga kegiatan, yakni gunung hutan, panjat tebing, dan diving, dengan masing-masing kuota 50 peserta.
Hasil pembahasan dalam Temu Wicara ditargetkan menghasilkan Manifesto Hijau 2045 sebagai rumusan bersama sekaligus bahan masukan kepada pemerintah.
“Temu Wicara menjadi ruang bagi kami untuk membahas isu-isu lingkungan dan persoalan yang terjadi di berbagai daerah. Dari forum ini, kami ingin menghasilkan rumusan bersama yang bisa menjadi masukan kepada pemerintah,” kata Ika dalam konferensi pers di Kendari, Jumat (2/10/2026).
Selain forum diskusi, peserta akan mengikuti rangkaian Kenal Medan dengan turun langsung ke sejumlah kawasan alam di Sultra.
Lokasi kegiatan di antaranya kawasan Pegunungan Karst Matarombeo di Desa Bendewuta, Kecamatan Oheo, Konawe Utara, untuk kegiatan panjat tebing; perairan Wakatobi di Wangi-Wangi untuk diving; serta Gunung Mekongga di Desa Tinukari, Kolaka Utara, untuk kegiatan gunung hutan.
Menurut Ika, Kenal Medan menjadi bagian penting karena peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga melihat kondisi lingkungan secara langsung.
“Apa yang mereka temukan di lapangan nantinya dibawa kembali ke forum untuk dibahas dan dirumuskan bersama,” ujarnya.
Panitia juga menyiapkan sejumlah agenda pengabdian dan aksi lingkungan, seperti penanaman mangrove, transplantasi terumbu karang, Kendari Bersih, serta bakti sosial di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe.
Sultra dipilih sebagai tuan rumah karena memiliki kekayaan alam sekaligus aktivitas industri yang berkembang. Kondisi tersebut dinilai relevan dengan tema hilirisasi hijau yang diangkat dalam TWKM XXXV.
“Kami ingin pembangunan terus maju tanpa mengabaikan lingkungan dan kondisi sosial masyarakat. Sulawesi Tenggara memiliki potensi alam dan industri, sehingga melalui kegiatan ini kami ingin mempertemukan pembahasan tentang pembangunan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan,” kata Ika.
Diagendakan Dihadiri Dua Menteri dan Gubernur Maluku Utara
Ketua Panitia TWKM XXXV, Muhamad Kurniawan, mengatakan persiapan kegiatan kini memasuki tahap akhir. Sejumlah universitas dan organisasi mahasiswa pencinta alam dari berbagai daerah disebut telah mengonfirmasi kehadiran.
TWKM XXXV juga direncanakan dihadiri Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, serta Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda.
“Untuk persiapan, secara keseluruhan kami sudah siap. Beberapa peserta dari universitas di Indonesia sudah mengonfirmasi kehadiran dan panitia juga telah menyiapkan kebutuhan teknis untuk seluruh rangkaian kegiatan,” ujar Kurniawan.
Untuk kegiatan Kenal Medan, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok dengan kuota masing-masing 50 orang. Sebanyak 50 peserta mengikuti kegiatan gunung hutan, 50 peserta mengikuti panjat tebing, dan 50 peserta lainnya mengikuti diving.
Khusus peserta gunung hutan di Gunung Mekongga, keberangkatan dijadwalkan lebih awal, yakni pada 20 Oktober. Kegiatan tersebut diperkirakan berlangsung sekitar satu pekan.
Aspek keselamatan menjadi perhatian panitia. Tim evakuasi akan ditempatkan di Pos 2 Gunung Mekongga. Panitia juga berkoordinasi dengan ORARI Kolaka untuk memastikan komunikasi selama kegiatan berlangsung.
“Kami sudah menyiapkan jalur evakuasi dan tim yang akan berada di Pos 2 sebagai tim evakuasi. Untuk komunikasi di lapangan, kami juga sudah berkoordinasi dengan ORARI Kolaka sehingga apabila terjadi kondisi yang membutuhkan penanganan, komunikasi bisa tetap berjalan,” jelas Kurniawan.
Selain menjadi forum mahasiswa pencinta alam, TWKM XXXV diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi alam dan wisata Sultra. Peserta dari berbagai daerah akan mendapat kesempatan mengenal langsung sejumlah kawasan yang menjadi lokasi kegiatan.
“Teman-teman yang datang dari berbagai daerah tidak hanya mengikuti forum, tetapi juga kami ajak melihat langsung potensi alam dan wisata yang ada di Sulawesi Tenggara,” katanya.
Ika menegaskan, pembahasan TWKM XXXV diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi. Temuan selama kegiatan Kenal Medan dan aksi pengabdian akan menjadi bahan pembahasan dalam penyusunan rekomendasi.
Salah satu isu yang akan mendapat perhatian adalah pengelolaan kawasan bekas tambang yang dinilai belum optimal.
“Kami ingin melihat bagaimana pembangunan di daerah kita berjalan berdampingan dengan industri dan lingkungan yang harus dijaga. Salah satunya persoalan kawasan bekas tambang yang belum dikelola dengan baik,” pungkas Ika.




