Opini: Iswanto Sugiarto
Ketua Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Kota Kendari
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) selalu menjadi isu yang sangat sensitif bagi masyarakat Indonesia. Namun bagi kaum buruh, dampaknya jauh lebih besar dibandingkan kelompok masyarakat lainnya. Ketika harga BBM naik, bukan hanya biaya transportasi yang meningkat, tetapi juga harga kebutuhan pokok, biaya sewa rumah, biaya pendidikan anak, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari ikut terdorong naik akibat efek berantai inflasi.
Buruh merupakan kelompok yang sangat bergantung pada kepastian upah bulanan. Sayangnya, ketika BBM mengalami kenaikan, penyesuaian upah tidak serta merta mengikuti kenaikan biaya hidup. Akibatnya, daya beli buruh semakin melemah. Penghasilan yang sebelumnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga menjadi tidak lagi memadai karena harga barang dan jasa ikut meningkat.
Di Kota Kendari maupun daerah lainnya, sebagian besar buruh menggunakan kendaraan roda dua untuk berangkat dan pulang bekerja. Kenaikan BBM secara langsung menambah pengeluaran harian mereka. Belum lagi kenaikan tarif angkutan, ongkos distribusi bahan pangan, dan harga kebutuhan pokok yang pada akhirnya harus ditanggung oleh keluarga pekerja. Kondisi ini membuat kesejahteraan buruh semakin tergerus.
Sebagai organisasi yang memperjuangkan hak-hak pekerja, KSBSI Kota Kendari memandang bahwa setiap kebijakan yang berpotensi menambah beban hidup masyarakat harus dibarengi dengan langkah perlindungan yang nyata. Pemerintah perlu memastikan bahwa kenaikan harga BBM tidak menjadi alasan bagi perusahaan untuk menahan kenaikan upah, mengurangi kesejahteraan pekerja, atau bahkan melakukan efisiensi yang berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK).
Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat pengawasan terhadap harga kebutuhan pokok agar tidak terjadi lonjakan yang tidak terkendali. Bantuan sosial dan program perlindungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah harus tepat sasaran. Buruh tidak boleh menjadi pihak yang selalu menanggung beban paling berat dari setiap gejolak ekonomi yang terjadi.
Pada prinsipnya, KSBSI Kota Kendari memahami bahwa kebijakan energi sering kali dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global dan kemampuan fiskal negara. Namun, pemerintah harus memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil tetap berpihak kepada rakyat pekerja dan tidak mengorbankan kesejahteraan buruh demi kepentingan jangka pendek.
Pertanyaan besarnya adalah: BBM naik, apakah upah buruh juga naik? Jika jawabannya tidak, maka sudah pasti buruh menjadi kelompok yang paling terdampak. Oleh karena itu, negara, pengusaha, dan seluruh pemangku kepentingan harus duduk bersama mencari solusi yang adil agar kesejahteraan buruh tetap terlindungi di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.
*Karena sejatinya, buruh bukan sekadar roda penggerak ekonomi, tetapi juga warga negara yang berhak hidup layak dan sejahtera.*Pungkasnya












